Selasa, 08 Februari 2011

PUNCAK KENIKMATAN

" Sepnjang Allah melimpahkan kita keyaatan kepadaNya sebagai rizki dan merasa cukup denganNya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah telah menyempurnakan nikmat lahir dan batin kita "
  Menurut Fudhail bin Iyadl, bahwa ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya tergantung kadar deajat posisi seorang hamba tersebut dihadapan Tuhannya. Dengan kata lain bahwa puncak kenikmatan itu sesungguhnya adalah ketaatan menjalankan perintahNya secara lahiriyah, dan merasa cukup jiwanya bersama Alloh secara batin.
  Maksudnya, seseorang mengerjakan amaliyah ibadah karena perintah Allah semata, Bukan karena motivasi tertentu. Sang hamba merasa hanya bagiNya, bersamaNya, bukan karena sebab atau akibat tertentu. Dan senantiasa bermusyahadah Rubbubiyyah ketika sedang beribadah. Maka disinilah terjadi sebuah kaseimbangan antara syari'at dan hakikat. Sebab dengan cara ini pulalah  seseorang dapat meraih keringanan, keselarasan, keparipurnaan dalam hakikat. Yaitu terbebas dari merasa memiliki daya dan upaya ( laa haula walaa quwwata illa billah)  
   Dikatakan bahwa nikmat terbesar adalah keluar dari diri, ada pula yang mengatakan bahwa nikmat itu adalah apa-apa yang menghubungkan dengan Allah. Bahkan ada pula yang mengatakan dengan segala sesuatu yang tidak mendatangkan penyesalan dan tidak mengakibatkan siksaan.
   Dengan merasa cukup hanya Allah satu-satunya harapan dimasa depan, maka disaat yang sama seseorang akan merasa cukup denganNya.
   Sebuah riwayat seorang sufi wanita bernama Rabbi'ah Adawiyyah ; Pada saat itu Beliau mengelilingi kampung dengan membawa suatu wadah berisi air di tangan kanannya, sementara tangan kirinya membawa obor dengan apinya yang menyala. Saat itu pula, dengan penuh rasa heran, seorang dari banyak warga yang melihat bertanya padanya : " Wahai Rabbi'ah, apa yang kau lakukan, mengelilingi kampung dengan membawa obor dan air di tanganmu ?''. tanya seorang warga tersebut.
   Maka Rabbi'ah Adawiyyah pun menjawab, " Aku sedang mencari surga dan neraka " .
sambil merasa menyaksikan sebuah kekonyolan, seorang warga itupun bertanya kembali : "Lalu apa yang akan kau perbuat jika kau menemukan keduanya ?"
   Dengan tegas Rabbi'ah Adawiyyah menjawab : " Jika kutemukan surga, Maka akan kubakar surga itu dengan obor yang kubawa ini agar orang-orang tidak lagi mengiginkan surga dalam ibadahnya. Dan jika kutemukan neraka, maka akan kusiram dengan air ini sehingga orang-orang beribadah bukan karena takut neraka lagi, melainkan karena Allah semata".
   Dan sebuah ikrar dalam bentuk doa yang terkenal dari Rabbi'ah Adawiyyah adalah: " Ya Allah , jika aku beribadah padaMu hanya menginginkan surgaMu, maka jauhkan surga itu dariku dan apabila aku beribadah padaMu, hanya karena takut akan nerakaMu, maka dekatkanlah neraka itu padaku. Aku beribadah padaMu semata-mata hanya ingin bertemu denganMu."
  Maka dari itu, dengan memetik  pelajaran dari riwayat diatas. Marilah kita jadikan
  • Ketaatan kepada Allah sebagai cita-cita dunia dan akhirat
  • Meraih kedamaian hati bersamaNya dan tidak menoleh selain padaNya
  • Menjadikan ibadah sebagai anugerah dengan memunculkan rasa syukur di dalamnya, bukan karena menggugurkan beban kewajiban semata
  • Menumbuhkan penghambaan kepada Alloh dan menjadikannya sebagai nikmat agung
  • Menyadari sebuah kenyataan bahwa kembali menuju sebuah ketaatan secara syari'at dan hakikat adalah pucak kenikmatan yang tak dapat dipisahkan.

Sabtu, 05 Februari 2011

BELAJAR MENJADI HAMBA

Seorang Habibulloh yakni Nabi Ibrahim a.s. bercerita, ketika beliau membeli seorang budak. dan terjadilah percakapan antara keduanya ( Ibrahim dan seorang budak ) :
Ibrahim a.s. : " Siapa namamu ? " 
Budak         : " Terserah bagaimana tuan memanggilku "
Ibrahim a.s. : " Apa makananmu ? "
Budak         : " Apa yang tuan berikan padaku. "
Ibrahim a.s. : " Apa yang engkau kenakan ? "
Budak         : " Pakaian apapun yang tuan berikan "
Ibrahim a.s. : " Apa yang engkau kerjakan ? "
Budak         : " Apapun yang tuan perintahkan. ''
Ibrahim a.s. : " Aapa yang engkau inginkan ? ''
Budak         : " Wahai tuanku, apa hubungannya seorang hamba dengan keinginan !"
   Setelah mendengar jawaban seorang budak atas pertanyan yang di lontarkannya maka seketika itu pula, hatinya ( Ibrahim a.s. ) berkata pada dirinya sendiri : " Celakalah engkau, sepanjang hidupmu,sesungguhnya engkau adalah seorang hamba Allah ". Dan Ibrahim a.s. pun menangis lalu jatuh pingsan.
   Tentunya kita tahu, apa yang menyebabkan Nabi Ibrahim a.s. menangis dan jatuh pingsan. Tiada lain karena beliau merasa penghambaannya kepada Alloh tak selayaknya seorang budak kepada majikannya.
   Sepatutnya kita sadar, bahwa hasrat atau keinginan, sedikitnya telah memudarkan kemurnian penghambaaan kepada Alloh. Na'udzubillah, faghfirlii.